Jumat, 13 Desember 2019

Semoga Memilihmu Bukan Sebuah Kesalahan

Malam ini aku kembali bersujud setelah beberapa hari istirahat dari aktifitas ibadah. Rindu rasanya berduaan dengan Allah. Mengadukan segala keluh dan kesah, bercerita perihal kecemasan-kecemasan yang belakangan ini aku rasa. Memang Allah lah sebaik-baik tempat curhat.

Pertanyaan, "Apakah dia benar-benar jodohku?"
selalu mengalun dipikiranku beberapa hari terakhir ini.
Seakan tidak percaya bahwa dialah orangnya.
Laki-laki gagah berkulit sawo matang kurang lebihnya seperti itu lah, yang penuh dengan kesantunan. Waktu itu; meminta kepada Ayah agar aku menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Allah memang tahu, sosok seperti apa yang layak untuk membersamaiku. Dan laki-laki gagah bertubuh dingin itu yang Tuhan kirimkan untukku. Allah tahu aku perempuan yang pencemburu. Allah juga tahu, aku tidak begitu suka dengan pria yang yang mudah akrab dengan semua wanita. Allah juga tahu, aku tidak  suka laki-laki rendahan; yang mudah mengumbar janji-janji palsu.

Lalu, aku tak henti-hentinya melangitkan dedoa di setiap waktu. Semoga yang datang padaku kelak adalah laki-laki yang jauh dari kriteria buruk itu. Lalu, kamu tiba-tiba hadir sebagai jawaban dariNya. Betapa syoknya ketika mendengarkan obrolan darimu. Entah hanya bermain-main, atau memang sudah ada niat ingin mengajukan diri. Hanya Allah yang tahu.

Hari itu, sepertinya semesta sedang merayakan ketegangan yang aku rasakan. Kegaguan yang membuatku sedikit terlihat lebih bodoh dari biasanya. Menanggapi ucapanmu yang serius itu dengan sebuah kalimat. "Bohong"! ini sungguh pernyataan yang kurang elegan. hmmm

Sebagai seorang perempuan yang selalu menjaga wibawa, seketika luntur harga diri yang selama ini kupertahankan mati-matian di hadapan seseorang pria. ia membuatku hilang keanggunan.

Hari-hari berlalu, dan aku menarik sebuah kesimpulan dari hasil diskusiku dengan Tuhan. Bahwa iya kamulah orangnya. Seseorang yang kunanti-nantikan kehadirannya selama ini dalam doa. Semoga memilihmu; bukanlah sebuah kesalahan. Karena dalam istikharah, namamu yang menjadi jawabannya. 

Terimakasih sudah mau bersabar melalui proses demi proses yang melelahkan itu. 
Terimakasih sudah mau berjuang segigih dan sekuat itu.
Terimakasih atas segala upaya untuk menyanggupi persyaratan yang diajukan orangtuaku kepadamu.

Akan ku ceritakan pada malaikat-malaikat kecil kita nanti. Bahwa hari ini, ada seorang pria yang bertahan dan berjuang untuk mendapatkan mamahnya. Dan itu adalah kamu; Papahnya. 💗

Tidak ada komentar:

Posting Komentar