namun akhirnya berada dalam satu suara.
Saya tahu hatimu kecewa.
Saya tahu kamu pasti merana.
Saya tahu duka pasti sedang mendekapmu.
Karena bagaimana mungkin akan ada hati yang tetap baik-baik saja
ketika selama ini selalu menjadi prioritas hanya berujung untuk melepas.
Segalanya memang sudah memiliki suratan masing-masing.
Ada yang sebelumnya tidak mengenal sekali,
namun bisa berakhir khidmat selepas mengucap akad.
Ada yang sekian lama berkomitmen untuk menghalalkan,
namun harus menangisi kenyataan yang berakhir tidak sesuai harapan.
Darimu atau dari mereka.
Mungkin ada yang pernah menerima pahitnya kenyataan.
Mungkin ada yang pernah terbentur restu orangtua.
Mungkin ada yang pernah terhalang keyakinan yang berbeda.
Semuanya terjadi bukan tanpa alasan.
Semuanya terjadi bukan tanpa sebab.
Ketika sebuah perpisahan terjadi, cobalah untuk berpikir sejernih mungkin.
Betapa kecewanya hati ketika harus dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan melepaskan untuk seseorang yang lain.
Sederhananya memang belum berjodoh.
Tapi, itu bukan berarti diri yang tersakiti harus memberi penilaian
bahwa yang terlepas bukan seseorang yang baik.
Karena bisa jadi di hadapan Tuhan,
dia memang seorang yang mendapat predikat baik.
Namun, baiknya memang bukan bersamamu.
Pun dirimu baik dihadapan Tuhan,
tapi baikmu jika memang tidak bersamanya.
Mungkin kalian sama-sama tidak baik.
Maka Tuhan memisahkan agar kalian dipertemukan dengan seseorang yang siap membimbing untuk menjadi baik.
Dan atau mungkin memang benar kalian sama-sama tidak baik.
Namun karena berpisah membuat kalian memahami bahwa itu adalah ketetapan terbaik, maka kalian akan sama-sama dipertemukan dengan yang terbaik.
Ingat-ingatlah selalu bahwa kita hanya manusia yang memiliki keterbatasan dalam melihat, mendengar, berucap dan menilai.
Dan sebaik-baiknya ketetapan ialah ketika berada dalam kenyataan yang pahit, namun hati senantiasa berprasangka baik kepada Tuhan.
Kalipucang, 13 Desember 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar